Batik Selebritis Motif Bantulan Sabtu, 25 Jul 2009 12:10:50 BATIK cantik yang dipakai artis, selebritis, public figure itu dari mana asalnya? Bukan tidak mungkin, itu hasil garapan wanita-wanita sederhana, yang menorehkan lilin di atas kain putih (mori) dengan tangannya. Kemudian oleh para pria yang juga sederhana, diproses dengan cara tradisional. Dikerok, wedel, tembok, disoga dan dikebyok. Atau proses warnanya melalui 'soletan'. Setiap kain, proses pewarnaannya bisa sampai tujuh atau delapan kali celupan yang rumit. Jadilah batik-batik yang cantik. "Ini namanya batik Tantowi Yahya", kata Ny Sri Suwastilah kepada Bernas Jogja di rumahnya, Danunegaran Jogja, sambil menunjukkan batik cantik dengan motif kembang-kembang bulat. Karena batik motif ini dipakai oleh Tantowi Yahya. Aneka batik yang ada di rumahnya adalah batik Bantulan. Ada motif tradisional, ada yang modifikasi. Motif tradisional Girilaya yang masih dilestarikan sesuai pakemnya di antaranya motif semen rama, pringgodani, wahyu tumurun, kukiloasmoro, gajah birawa. Sedang Bantulan modifikasi, dibuat sesuai dengan selera dan tuntutan konsumen. Tetapi ciri batiknya tetap ada, di antaranya adalah 'ceceg' atau titik-titik. Batik Bantulan lainnya yang banyak dipakai untuk kemeja, blus, busana muslimah atau seragam kerja, motifnya 'boketan' dengan berbagai motif bunga warna-warni. Selain itu juga motif 'alasan' dengan aneka gambar hewan. Banyak yang menggunakannya sebagai baju seragam. Batik motif 'alasan' banyak pula yang memakainya sebagai 'jarit'. Caranya tinggal dililitkan, bahkan tidak perlu wiron pun oke. Jenis ini proses pewarnaannya tidak menggunakan 'soga' dan finishingnya dengan 'kebyok', tetapi dengan warna-warni. Ada yang hanya dua warna, seperti hitam putih, biru putih, merah putih. Tetapi banyak juga menggunakan variasi warna. Bergabung dalam Paguyuban Pecinta Batik 'Sekar Jagad', bu Is punya pelanggan variatif. Termasuk sejumlah desainer terkenal. "Wah, batik seperti ini kalau sudah berada di tangan desainer bisa menjadi busana yang indah dan mahal harganya", katanya sambil menunjuk batik Bantulan motif 'alasan' dengan warna dasar hitam serta aneka warna 'ngejreng' sehingga sangat menarik. Tak hanya di Jogja, pasarnya bahkan juga di Jakarta. Menekuni bisnis batik sejak pensiun sebagai Kepala Sekolah SD Keputran XI Jogja (sebelumnya lama mengajar di SDN Pujokusuman II), bu Is mengaku dimotivasi oleh tokoh batik Dra Ir Suliantoro Sulaiman. Meskipun sebenarnya sejak kecil sudah terlibat dengan dunia batik. Karena Danunegaran merupakan kampung batik. Kemudian membantu kakaknya, Ny Pranotodihardjo yang juga juragan batik. Semua batik yang diproduksi merupakan batik tulis, memberdayakan kaum wanita pembatik di Desa Girilaya Imogiri. Meski harganya relatif mahal, berkisar Rp 100.000 sampai Rp 350.000 per potong, tetapi sangat banyak masyarakat yang berminat. Ada yang mudah dikenal dari batik tulis. Meski motif sama, bisa tidak sama persis karena hasil coretan tangan. Juga tembus, serta bau khas 'malam' (lilin) yang tersisa aromanya pada kain. Ia tidak memasarkan produknya di pasar Beringharjo, karena kalah bersaing harga dengan printing. Tetapi setiap bulan ia berhasil menjual batik dalam jumlah cukup banyak. Selain para desainer, juga toko-toko batik ternama menjadi pelanggannya. Sehingga rumahnya yang sebagian dipakai untuk proses pewarnaan, agak 'tersembunyi' di sebelah timur beteng nDalem Puspo Jalan Mayjen Sutoyo Jogja, sudah dikenal di kalangan pecinta batik. (ato)
 GAYA
|
 FASHION
|
 MAJALAH DINDING
|
 SOAL ONLINE
|
 GALLERY
| |
|
|