BAGHDAD-‑ Teror bom dan mortir yang menewaskan 19 orang tidak menyurutkan rakyat Irak untuk mengikuti pemilihan umum (Pemilu) bebas di negara itu, Minggu 7 Maret 2010. Ini merupakan pemilu kedua yang diselenggarakan di Irak pasca lengsernya rezim Saddam Hussein pada 2003.
Menjelang dan bersamaan dibukanya tempat pemungutan suara (TPS) secara serempak pada Minggu pagi, Irak diguncang sejumlah ledakan bom dan mortir. Ini merupakan upaya pemberontak untuk mensabotase pemilu ‑ yang mereka pandang sebagai upaya legitimasi pemerintahan rezim Syiah dan pendudukan pasukan AS.
Sedikitnya 12 orang tewas di Baghdad bagian timur laut setelah sebuah ledakan menghancurkan suatu gedung. Di Baghdad bagian barat, tujuh orang tewas akibat beberapa serangan mortir. Ledakan juga terdengar di beberapa tempat di Baghdad dan kota‑kota lain di Irak.
Pemberontak juga menembakkan mortir ke Zona Hijau ‑ yang merupakan lokasi Kedutaan Besar AS dan Kantor Perdana Menteri Irak ‑ dan basis kaum Sunni di distrik Azamiyah, Baghdad.
Kendati diguncang teror bom dan serangan mortir, para pemilih di Irak tampak tidak takut memberikan hak suara mereka di TPS. "Saya tidak takut dan tidak mau berdiam diri di rumah. Kita harus melakukan perubahan. Bila saya tinggal di rumah dan tidak memilih, situasi di Azamiyah akan bertambah buruk," kata seorang warga berusia 40 tahun bernama Walid Abid. Padahal beberapa ratus meter dari rumahnya dia mendengar ledakan mortir.
Di Distrik Hurriyah, yang menjadi basis masyarakat Syiah, terdengar pengumuman dari alat pengeras suara sejumlah masjid, menyerukan warga untuk pergi ke TPS "seperti anak panah ke dada musuh."
Dalam pemilu kali ini, 6.200 kandidat berkompetisi untuk memperebutkan 325 kursi di parlemen. Mereka berharap 19 juta warga yang punya hak pilih tidak ragu‑ragu ke TPS.
Kendati rezim Saddam sudah dijungkalkan tujuh tahun lalu, Irak terus saja bergejolak oleh pemberontakan konflik antara masyarakat Sunni dan Syiah. Pasukan AS dan negara‑negara sekutu tampak kesulitan menyiapkan keamanan Irak untuk mengatasi konflik‑konflik itu.
Apalagi, seluruh pasukan AS direncanakan pulang secara bertahap hingga akhir tahun depan. Maka, pemilu kali ini sangat menentukan untuk memilih pemimpin yang bisa menjamin keamanan dan stabilitas Irak sepeninggal pasukan AS dan sekutu‑sekutunya. (afp/vvn)