BAYANGAN kita bila mendengar kata pemimpin paling tidak terwujud dalam figur yang cerdas, lebih ekstravet dan bertubuh besar, tinggi, seperti John Kenneth Galbraith yang tingginya mencapai 2,04 meter. Melalui ketinggiannya itu ia menyerukan, "Dunia seharusnya dimiliki oleh orang‑orang yang tinggi. Mereka dapat melihat dengan lebih baik, oleh karenanya perilaku mereka juga akan lebih baik, dan dengan demikian dapat dipercaya." Kalaupun bayangan itu tidak demikian, paling tidak muncul asumsi bahwa pemimpin adalah sosok manusia yang paling bisa, seperti julukan yang diberikan pada Leonardo da Vinci, sang pelukis Italia yang melukis Monalisa. Sampai‑sampai da Vinci dijuluki orang pertama di dunia yang dapat menggambar dengan tepat struktur tubuh manusia, jantung manusia dan posisi bayi dalam kandungan.
Dua dugaan di atas sangat tidak tepat apabila figur pemimpin sebagai alat ukurnya adalah tinggi badan dan kemampuan melukis. Lalu seseorang disebut pemimpin indikatornya apa? Menurut hemat saya, pertama, pemimpin adalah orang yang mau melindungi anak buahnya dalam keadaan susah dan senang.
Kedua, pemimpin adalah orang yang dapat memberikan dorongan atau semangat, motivasi pada anak buahnya. Ketiga, pemimpin adalah orang yang dapat menjadi contoh dari sikap dan perilakunya. Artinya berani berkata benar, jika hal itu memang benar, dan berani berkata salah kalau memang salah.
Oleh karenya faktor kejujuran dan integritas menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Keempat, kemampuan menjabarkan visi dan misi serta mampu mengkoordinir segala kegiatan dengan perencanaan yang matang.
Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dalam acara Dies GMKI di Kraton Kilen, pada Sabtu (12/2) 10 tahun yang lalu mengatakan bahwa jiwa seorang pemimpin harus lebih mengacu pada sebuah pengabdian kepada rakyat, bukan kepada jabatan. Karena pada hekekatnya status pemimpin merupakan amanat yang mengandung makna sebuah tanggungjawab di dalamnya. Dengan demikian seorang pemimpin harus bisa kekang hawa nafsu yang akan menghancurkan otoriter.
Dalam operasionalnya, kerja seorang pemimpin dihadapkan pada dua dimensi. Pertama, berorientasi lebih pada yang bersifat human, yakni memanusiakan manusia. Artinya, sekecil apapun suatu hasil karya perlu penghargaan sesuai dengan martabat manusia. Kedua, berorientasi pada perhatian manusia sebagai tenaga kerja dan sumberdaya. Artinya, manusia tidak dapat disejajarkan dengan mesin.
Fakur pemimpin dalam dunia manufaktur atau industri lebih melekat sebagai manajer. Artinya, kiprah seorang manajer selalu dihadapkan dalam suatu pengambilan keputusan. Oleh karenanya semakin banyak keputusan yang dibuat, tanpa merugikan kepentingan umum dan tepat sasaran, maka akan semakin besar kemampuan dan rasa percaya dirinya. Dengan demikian maka seluruh kegiatan suatu organisasi sangat tergantung dari serpak terjangnya dari keuletan sang manajer dalam memperdayakan keterlibatan pada setiap individu.
Karena sang manajer adalah juga sebagai pemimpin, maka ia harus mempunyai pandangan‑pandangan atau ideologi baru supaya mampu mengantisipasi dan mengatasi berbagai masalah yang cepat berubah. Sepertimantan pemimpin negara kita Indonesia, Gus Dur (Alm) yang membawa ideologi baru, yakni "Biarinesme".
Menurut Guru bangsa kita (Gus Dur), pada dasarnya masalah itu ada dua, yang pertama harus dipecahkan, dan yang kedua pecah sendiri. Oleh karena itu kita "jangan cepat gugup, jangan bingung". Kita sebaiknya tidak menganggap semua masalah itu serius. Ini bukan berarti bahwa setiap ada masalah, mana masalah yang perlu dipecahkan, akan tetapi prioritas masalah mana yang harus segera dipecahkan dengan resiko yang paling sedikit merupakan suatu keputusan yang harus diambil oleh figur pemimpin.
Seorang pemimpin yang baik tidak cukup hanya memiliki idealis belaka, akan tetapi hendaknya realistis dan mampu menyadari keterbatasan dan kelemahan orang lain, tanpa memaksakan kehendaknya sendiri. Dan yang lebih penting lagi adalah mau menerima kritikan dan masukan, dalam rangka peningkatan perbaikan di segala sektor kehidupan. Lebih‑lebih demi kepentingan dan pelayanan orang banyak menjadi bagian yang yang perlu diprioritaskan.