JOGJA -- Setelah sebelumnya menimpa salah seorang suporter Paserbumi, pada Selasa (9/3) lalu suporter Brajamusti Irfan Nur Fahmi (14) menjadi korban kebrutalan oknum yang diduga anggota suporter klub sepakbola profesional asal DIY lainnya, di kawasan Jalan Laksda Adisutjipto Yogyakarta.
Akibatnya, siswa kelas 3 SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta itu harus dirawat di RS Bethesda dengan luka yang cukup serius. Sebelum menjadi korban kekerasan, Fahmi bersama sejumlah rekannya sempat menyambut kedatangan tim Laskar Mataram PSIM yang baru selesai bertanding melawan Mojokerto Putra (MP) di Stadion Sasana Krida, Komplek Akademi TNI Angkatan Udara (AAU), Selasa (9/3) sore.
Saat kedua tim bertanding yang berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan PSIM, Irfan dan suporter Brajamusti lainnya tidak bisa menyaksikan langsung di Stadion Sasana Krida. Sebab, laga antara tim Laskar Mataram kontra MP merupakan partai usiran, tanpa penonton, menyusul sanksi yang dijatuhkan Komisi Disiplin PSSI. Karena itu, Irfan dan sebagian suporter Brajamusti lainnya hanya bisa menyambut kedatangan rombongan tim PSIM di Jalan seputar kawasan Balaikota Timoho hingga tiba di Wisma PSIM Baciro.
Ketika hendak pulang itulah, Irfan dan kawan-kawan menjadi korban penganiayaan bersama rekannya. Selain dia, tiga suporter Brajamusti lainnya juga menderita luka pada wajah, hidung, paha dan tempurung kaki karena dipukul benda tajam. Namun, ketiganya tidak menjalani rawat inap.
Menurut ibundanya, Noorce, akibat luka yang diderita, Irfan harus menerima 28 jahitan pada sekujur tubuhnya, baik di bagian kepala, kaki dan perut. "Kami sangat prihatin dan menyerahkan sepenuhnya kasus yang menimpa anak saya ini kepada pihak yang berwajib," ungkap warga Warungboto, Umbulharjo tersebut dengan nada sedih.
Keprihatinan yang sama juga diungkapkan manajemen dan pemain PSIM saat menjenguk Irfan, Kamis (11/3) siang. "Kami berdoa semoga Adik Irfan segera sembuh," ujar Manajer Operasional PSIM Jarot Sri Kastowo yang ikut menjenguk Irfan bersama Sekretaris tim Dessy Arfianto serta kapten tim Sumarjono dan kawan-kawan. (rob)