Berkah di Balik Musibah Oleh : Muhammad Syukron Maksum, Penulis buku "The Power of Airmata" Jumat, 9 Okt 2009 10:41:53 KETIKA Salman Al‑Farisi, salah seorang sahabat keturunan Persia yang pernah disanjung Rasulullah sebagai pemilik ilmu orang‑orang terdahulu dan kemudian, sedang menderita sakit keras, Rasulullah saw berwasiat padanya, Sesungguhnya ada tiga hal yang menjadi kepunyaanmu ketika kau sakit. Engkau sedang mendapat peringatan dari Allah swt., doamu diijabah oleh Allah, dan penyakit yang menimpamu akan menghapuskan dosa‑dosamu. Semoga Dia menggembirakanmu dengan kesehatan sampai ajalmu datang. Saat ini bencana bertubi‑tubi melanda negeri kita tercinta. Padang tiba‑tiba berguncang, dan daerah‑daerah lain turut terkena dampak yang tak kalah menyedihkan. Tak lama kemudian Jambi juga terkena gempa bumi. Meskipun eksesnya tak sedahsyat Padang dan sekitarnya, tak urung beberapa ratus rumah roboh tak karuan. Musibah itu datang tanpa disangka, dan menurut para ahli ini bukan yang terakhir, daerah lain siap dilanda gempa di kemudian hari. Ribuan nyawa harus melayang akibat bencana ini, dan sebagiannya lagi menderita fisik dan batinnya. Saudara‑saudara kita merasakan sakit yang luar biasa baik karena terluka disebabkan terkena reruntuhan bangunan, maupun yang jiwanya tertekan melihat saudara dan rekan‑rekannya meninggal dunia di depan mata, melihat bangunan tempat tinggal dan tempat beraktivitas sehari‑hari yang luluh‑lantak, atau trauma‑trauma lain dan ketakutan akan terjadinya bencana susulan. Mereka menderita luar dalam. Maka Rasulullah saw mendinginkan hati kita, yang akhir‑akhir ini terguncang dengan berbagai musibah yang datang silih berganti, dengan meyakinkan bahwa musibah yang kita terima memiliki beberapa implikasi positif. Pertama, Allah sedang memperingatkan kita. Barangkali kita sudah terlalu banyak membuat Allah kecewa, yang dalam bahasa Ebiet G Ade : selalu salah dan bangga dengan dosa‑dosa. Tanpa sadar ataupun disengaja kita banyak melakukan kesalahan, dan parahnya lagi, kadang‑kadang kita justru berbangga dengan dosa‑dosa yang telah dijalani. Kita bangga dengan kekayaan, popularitas, hidup yang glamour dan menghambur‑hamburkan uang, meskipun itu semua didapatkan dengan cara yang tidak benar. Kita bangga dengan korupsi yang merajalela, dan justru beramai‑ramai memberangus pihak‑pihak yang hendak memberantas korupsi. Dan banyak lagi kesalahan yang kita lakukan, maka kemudian Allah memperingatkan kita. Tapi ketahuilah, peringatan Allah dengan bencana‑bencana itu justru pertanda bahwa Allah masih memiliki perhatian pada kita. Berarti Allah masih sayang pada kita. Allah tak ingin kita melakukan kesalahan ini terus menerus, maka Ia mengingatkan bahwa kita bersalah. Kedua, permintaan kita akan dikabulkan oleh Allah. Lewat derita yang Allah timpakan pada kita, Allah memberi bonus dengan berjanji untuk mengabulkan doa‑doa yang kita panjatkan. Bukankah ini berkah yang luarbiasa yang tak dimiliki oleh sembarang manusia? Ketiga, dosa‑dosa kita dihapuskan. Ini juga tak kalah penting. Telah cukup banyak kesalahan yang kita perbuat, telah cukup panjang daftar maksiat yang kita jalankan, dan semua itu Allah hapuskan begitu saja. Allah mengampuni kita. Alhamdulillah. Meskipun segala bencana itu berimplikasi positif pada diri kita, Rasulullah saw tetap mendoakan kebaikan, Semoga Dia menggembirakanmu dengan kesehatan sampai ajalmu datang. Semoga kau berbahagia dengan jauhnya petaka dari diri, keluarga dan tetanggamu, kata Beliau. Jadi segala bencana itu tak Allah berikan pada kita, Allah memberikan ketentraman dan kebahagiaan sepanjang hidup kita. Hal ini tentu saja jika kita tak melakukan kesalahan yang membuat Allah murka. Wallahua'lam. ***
| Indeks WACANA hal 1 dari 70 | next >> |
 INTERNASIONAL
|
 JAWA TENGAH
|
 NASIONAL
|
 SPORT
|
 PENDIDIKAN
|
 WACANA
|
 MAGELANG
| |
|
|