Ical Ciptakan Sejarah Baru Jumat, 9 Okt 2009 10:39:59 MUSYAWARAH Nasional (Munas) VIII Partai Golkar di Riau telah berakhir Kamis (8/10/2009) dini hari. Secara aklamasi, Aburizal Bakrie (Ical) terpilih sebagai Ketua Umum (Ketum) partai berlambang pohon beringin. Dalam penjaringan bakal calon, Ical mengalahkan kompetitor terkuat, Surya Paloh. Raihan suaranya tidak hanya sekadar berhasil memenuhi syarat minimal 30 persen dari 536 suara, melainkan juga melampaui 50 persen plus 1. Artinya, bila merujuk pasal 40 ayat 4 Tatib Munas, bakal calon yang mendapatkan dukungan 50 persen plus 1 suara akan langsung dinyatakan sebagai Ketua Umum periode 2009‑2015. Dalam pemilihan tersebut, Ical unggul 296 suara. Sementara Surya Paloh meraih 240 suara. Sedangkan Tommy Soeharto dan Yuddy Chrisnandi sama sekali tidak memperoleh satupun suara. 536 suara yang diperebutkan para bakal calon ketum itu sendiri terdiri dari 492 DPD II, 33 DPD I, 10 ormas dan 1 DPP. Sebelumnya, total suara berjumlah 538. Namun akhirnya DPD II Kepulauan Seribu dan Langkat dinyatakan tidak memiliki hak mandat. Terpilihnya Ical secara aklamasi kemarin, meski tidak terlalu mengejutkan, tetapi tetap saja membuat sejarah tersendiri. Sebab, sejak era reformasi, pemilihan ketua umum Partai Politik (Parpol), termasuk Partai Golkar, selalu terjadi persaingan ketat. Bahkan, tidak sedikit pula berakhir dengan munculnya kepengurusan ganda. Memang, sepekan menjelang munas, suhu politik di tubuh partai Golkar terus memanas. Saling klaim dukungan diantara bakal calon ketua umum pun sempat memunculkan friksi-friksi. Bahkan, diantara kader nyaris adu fisik. Namun, berkat kedewasaan dan pengalaman sebagai sebuah partai yang lahir di era orde baru, semua bisa diakhiri dengan baik. Akankah Ical kembali membuat sejarah baru lagi bagi Partai Golkar? Kita tunggu saja kiprah Ical dan kawan-kawan hingga lima tahun ke depan. Yang pasti tugas Ical dan kawan-kawan tentunya akan jauh lebih berat, terutama dalam menghadapi dinamika perpolitikan di tanah air. Saat ini Partai Golkar sedang berada di persimpangan jalan. Hasil Pemilu Legislatif 2009 yang membuat partai tersebut hanya berada di posisi kedua, di bawah Partai Demokrat, telah mewajibkan para kader Partai Golkar untuk tidak terlena, dan harus terus berjuang untuk mengembalikan masa kejayaan partai berlambang pohon beringin tersebut. "Posisi kita bukan lagi terbesar. Tapi kita tidak perlu meratap," ujar Ical saat memberikan pidato kemenangan kemarin. Melihat realitas politik itu, maka Partai Golkar hanya ada dua pilihan. Yakni memegang kekuasaan atau mengontrol/mengawasi pemerintah (oposisi). Menurut Jusuf Kalla, tugas mengawasi pemerintah juga merupakan tugas mulia meskipun hal tersebut tak biasa dilakukan Partai Golkar. "Pegang kekuasaan itu baik, tetapi kalau tidak bisa, kita harus mengontrol kekuasaan. Itu juga baik agar ada check and ballance (pengawasan dan keseimbangan)," kata Jusuf Kalla saat membuka munas. Ketua Umum Partai Golkar ini mengakui bahwa Partai Golkar tidak biasa berada di luar kekuasaan. "Tapi Partai Golkar juga tak biasa meminta‑minta kekuasaan," kata Kalla. Menurut fungsionaris DPP Partai Golkar, Ferry Mursyidan Baldan, posisi politik partai berlambang pohon beringin itu, baik di dalam maupun di luar pemerintahan, bukan masalah krusial. Karena bagi Golkar, baik di dalam atau di luar pemerintahan, harus memiliki komitmen untuk lahirnya kebijakan dan program yang memajukan bangsa dan negara. Dengan demikian, Partai Golkar harus bisa membangun tradisi penghormatan terhadap pemenang pemilu, tanpa bersikap antipati dan tidak perlu marah jika pun pemenang tidak melibatkan mereka dalam pemerintahan. ***
| Indeks WACANA hal 1 dari 69 | next >> |
 INTERNASIONAL
|
 JAWA TENGAH
|
 NASIONAL
|
 SPORT
|
 PENDIDIKAN
|
 WACANA
|
 MAGELANG
| |
|
|