Prof Dr H Imam Suprayogo Menjadi Umat yang Menang Jumat, 9 Okt 2009 10:38:55 PERBEDAAN agama di negeri ini semakin jelas tidak menjadi halangan orang untuk saling mengenal, memahami, menghargai, dan selanjutnya saling bekerjasama. Perbedaan, tak terkecuali perbedaan keyakinan agama, semakin dipahami bukan sebagai kompetitor atau sebagai musuh, melainkan justru saling bekerjasama dalam kebaikan. Demikian pendapat Prof Dr H Imam Suprayogo, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang. Menurutnya, kerjasama dalam kebaikan senantiasa akan menguntungkan semua pihak, meski berbeda keyakinan. Apa saja yang mesti dilakukan? Kepada Tim Sindikasi Media CMM, Prof Dr H Imam Suprayogo, penerima MURI Award atas prestasinya menulis di web pribadi tanpa henti selama lebih dari setahun ini, menguraikan secara mendalam. Berikut petikan wawancaranya: Mengajarkan aplikasi kerjasama Islam menganjurkan umatnya agar saling bekerjasama dalam kebaikan, dan sebaliknya melarang bekerjasama dalam keburukan dan apa saja yang merugikan. Bekerjasama dalam pengembangan perguruan tinggi kiranya dilakukan untuk mendapatkan kemajuan bersama. Apalagi bangsa yang majemuk seperti Indonesia ini, maka lembaga pendidikan tinggi yang berlabel agama yang berbeda, seharusnya memelopori kegiatan itu, agar umat yang berbeda keyakinannya bisa bersatu, sebagaimana yang dikehendaki oleh semangat Bhineka Tunggal Ika. Dalam sejarah umat manusia, kemajuan selalu diraih melalui kerjasama. Berbagai prestasi dunia, seperti pembangunan berbagai keajaiban dunia, misalnya candi Borobudur, patung Liberty, beberapa piramida di Mesir yang membanggakan, tower di Perancis dan lain‑lain adalah merupakan buah kerjasama banyak orang. Dan, kerjasama akan berkelanjutan, jika keduabelah pihak dapat saling menguntungkan. Artinya, umat kini harus tidak menutup diri? Di alam yang terbuka sekarang ini, tidak akan mungkin bagi siapapun melakukan cara‑cara menutup diri atau membatasi pergaulannya. Jika hal itu dilakukan, justru akan tertinggal dari hiruk pikuk kemajuan zaman. Oleh karena itu, siapapun harus membuka diri seluas‑luasnya. Dahulu banyak orang takut terpengaruh jika tidak pandai membatasi diri. Cara seperti itu sekarang sudah tidak mungkin lagi dilakukan. Informasi sudah seperti air bah, melimpah ke mana‑mana, termasuk juga sarana komunikasi dan transportasi. Orang yang berusaha menutup diri akan menjadi tersisih dan tertinggal. Terkait hal ini, konsep pendidikan multikultur menjadi penting. Pandangan Bapak? Secara konseptual, pendidikan multikultur sudah diantisipasi jauh sebelumnya oleh pendiri bangsa ini. Dasar Negara Pancasila, UUD 1945, dan juga konsep Bhineka Tunggal Ika, semua itu lahir tidak lepas dari kondisi obyektif, bahwa bangsa ini adalah terdiri atas berbagai etnis, budaya, bahasa, adat istiadat, dan juga agama yang beraneka ragam. Rasanya tidak sulit menemukan contoh implementasi pendidikan multikultur itu. Suatu ketika, saya memenuhi undangan ceramah di STAKEN Ambon, sebuah lembaga pendidikan Nasrani, pada bulan Puasa. Forum tersebut dihadiri oleh para pimpinan, dosen, dan tidak kurang dari 400 mahasiswa Kristen Protestan. Tentu hanya saya sendiri yang berpuasa, tetapi justru yang lainnya menyesuaikan diri. Tidak ada hidangan apapun dalam pertemuan itu. Ini menunjukkan bagaimana pihak‑pihak yang memiliki keyakinan berbeda, tetapi dengan tekun mengikuti pandangan‑pandangan yang mungkin pula berbeda. Suasana adanya kesediaan memberi dan menerima, sekalipun tetap berbeda. Inilah yang sesungguhnya penting dalam pendidikan multikultur. Jika semua pihak saling memahami, menghargai, dan menghormati, sungguh semuanya menjadi terasa indah. Dalam konteks ini, keterbukaan menjadi kata kunci. Bisa Bapak jelaskan lebih jauh? Suasana keterbukaan dan kemudian adanya saling memberi dan menerima merupakan hal yang harus ditumbuh‑kembangkan di negeri multikultur seperti Indonesia ini. Dengan adanya keterbukaan, saling bertemu, dan bahkan bekerjasama, maka akan menjadi modal yang sangat berharga untuk memajukan kampus masing‑masing sekalipun memiliki keyakinan agama yang berbeda. Kehadiran saya di kampus itu juga diharapkan dapat berbagi pengalaman dalam mengembangkan perguruan tinggi Islam, sebagai bench marking pengembangan kampusnya. Bahkan, pimpinan kampus itu juga berharap ada dosen UIN Maliki Malang yang bersedia membantu memberikan kuliah tentang Islamologi, misalnya. Dalam lingkungan yang kian kompleks sekarang ini, bagaimana sebaiknya umat Islam bersikap dalam kehidupan beragama sehingga dikatakan menang? Beragama pada hakekatnya adalah menyeru pada kebaikan, hal yang mulia, bernilai kemanusiaan yang tinggi, termasuk mengajak orang untuk bisa memahami dirinya sendiri, tuhannya, dan juga kelanjutan sejarah hidupnya kelak. Sebaliknya, agama mencegah semua orang berbuat jahat, merusak, atau setidak‑tidaknya merugikan orang lain. Misi agama adalah mengajak kepada hal yang makruf dan mencegah dari hal yang mungkar. Usaha itu harus dilakukan dengan jalan tidak memaksa, hal inilah yang dilarang dalam beragama. Dalam konteks dakwah, mengajak orang beragama harus dilakukan dengan penuh hikmah atau arif. Menang dalam menunaikan misi agama Islam, jauh berbeda dengan arti menang dalam kegiatan kompetisi, perlawanan, dan bahkan juga perang. Menang dalam perjuangan agama bilamana seseorang mampu menaklukkan hawa nafsu, menghindar dari godaan setan, tidak berbuat bohong, namimah, ghibah, merusak, membunuh, menghancurkan, termasuk tidak melakukan teror yang tak hanya membuat orang takut, bahkan menemui kematian. Menang dalam memperjuangkan agama, jika orang lain menjadi gembira, hidup sehat, makmur dan sejahtera, aman dan damai sehingga banyak waktu untuk membangun peradaban umat manusia unggul dan mulia. Menang dalam perjuangan agama bukan tatkala orang lain menjadi menderita dan celaka, melainkan justru orang lain selamat, gembira, dan bahagia. Mereka disebut menang jika orang binaannya menjadi hidup sehat, pandai, jujur, dan bahkan juga tercukupi kebutuhan hidupnya. Pembawa misi dakwah dikatakan sebagai pemenang manakala berhasil membawa kehidupan yang selamat, damai, dan sejahtera, baik di dunia maupun di akherat, bukan sebaliknya. (CMM)
| Indeks WACANA hal 1 dari 69 | next >> |
 INTERNASIONAL
|
 JAWA TENGAH
|
 NASIONAL
|
 SPORT
|
 PENDIDIKAN
|
 WACANA
|
 MAGELANG
| |
|
|