Makna dari Corak Batik Jumat, 9 Okt 2009 10:36:40 BATIK telah ditetapkan sebagai warisan budaya dari Indonesia oleh UNESCO. Antusiasme masyarakat sangat tinggi menyambut hal tersebut. Namun menjadi sangat lucu ketika batik sebagai warisan budaya dari Indonesia, tapi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Jawa pada khususnya justru tidak tahu arti nilai budaya dari batik. Sebenarnya lukisan‑lukisan batik yang dipakai masyarakat menyimpan kearifan budaya lokal. Sebagai contoh, kebanyakan pakaian batik itu bercorak burung dan dedaunan. Dalam masyarakat Jawa, burung dinamakan kukila berasal dari akar kata bahasa Arab qul (berkata) yang merupakan penggalan dari Qul khairan auliyashmut (berkata baik atau lebih baik diam). Adapun dedaunan dalam bahasa Jawa disebut lung yang berasal dari kata tulung, sehingga makna dari corak dedaunan kurang lebihnya adalah keharusan tolong‑menolong. Akan sangat dilematis jika kita trauma dengan pengklaiman budaya‑budaya kita oleh negara lain, tapi kita belum siap menerima hak paten ini. Wallahu a'lam. Vico Luthfi Ipmawan Mahasiswa UNY Karangmalang Yogyakarta Menulis Surat, Kenapa Tidak? APA yang biasanya orang peringati setiap tanggal 9 Oktober? Hanya segelintir orang yang mungkin mengetahui bahwa hari tersebut setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Surat‑Menyurat Internasional. Hari Surat‑Menyurat Internasional memang tidak sepopuler Hari AIDS atau Hari Pendidikan Nasional. Biasanya pun hanya diperingati oleh orang‑orang dalam bidang tersebut, seperti jasa pos. Ketidaktahuan masyarakat awam saat ini mungkin juga dikarenakan kurangnya apresiasi mereka terhadap kegiatan menulis surat. Kegiatan itu biasanya hanya dilakukan dalam situasi yang formal, seperti pembuatan surat undangan, surat instansi atau surat pemberitahuan. Surat pribadi (yang bersifat personal) biasanya jarang dilakukan. Masyarakat saat ini lebih menyukai berbicara, apalagi teknologi telepon seluler sudah memungkinkan seseorang untuk berbicara daripada menulis surat yang notabene membutuhkan waktu lebih lama. Mungkin faktor zaman juga menjadi masalah utama di sini. Di masa lalu, menulis surat dengan kertas surat, amplop, perangko, dan dikirim lewat pos menjadi primadona tersendiri. Satu‑satunya cara untuk berkomunikasi jarak jauh hanya dengan mengandalkan pos atau paling cepat dengan telegram, itupun membutuhkan waktu 1 atau 2 hari. Namun, seiring berjalannya waktu, teknologi yang berkembang memudahkan umat manusia untuk berkirim surat hanya dalam hitungan detik saja, sebut saja lewat e‑mail, faksimile, atau SMS. Menulis surat memang tidak harus lewat kantor pos. Sah‑sah saja sebenarnya menggunakan teknologi. Yang perlu disoroti adalah apapun teknologi yang digunakan dan apapun sarana yang digunakan, jangan sampai meniadakan budaya menulis surat. Mungkin saja surat‑surat yang ditulis saat ini bisa berarti besar di masa yang akan datang, seperti surat R.A. Kartini yang dikumpulkan dan menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Apalagi sebagai kalangan akademisi, menulis sudah menjadi makanan sehari‑hari, jadi tidak ada salahnya mulai membudayakan menulis kembali, terutama menulis surat. Selamat Hari Surat Menyurat Internasional. Fatiharifah Mahasiswi UNY Karangmalang Yogyakarta
| Indeks WACANA hal 1 dari 69 | next >> |
 INTERNASIONAL
|
 JAWA TENGAH
|
 NASIONAL
|
 SPORT
|
 PENDIDIKAN
|
 WACANA
|
 MAGELANG
| |
|
|