Esensi dalam Adab Beridul Fitri Oleh : Laksmi Amalia, Mahasiswi Jurusan Pendidikan Dokter FK UGM, Yogyakarta Jumat, 18 Sep 2009 09:53:26 SELAMA hampir dua dekade tinggal dan merasakan suasana Idul Fitri di Indonesia, sering muncul anggapan bahwa hari raya ini lama kelamaan hanya menjadi tradisi kemasyarakatan belaka tanpa adanya pemaknaan. Bahkan seiring dengan laju berkembangnya zaman, tidak jarang hari raya Idul Fitri telah menjelma sebagai simbol konsumerisme. Tengoklah koran dan majalah, maka kupon diskon suatu department store siap digunakan untuk berbelanja, tawaran potongan harga selalu menjadi primadona dengan adanya istilah Lebaran Sale dan berbagai macam bank dengan kartu kreditnya pun menawarkan kemudahan serupa sehingga hari raya Idul Fitri justru diwarnai dengan daya beli yang meningkat tajam dan toko pun penuh sesak oleh orang yang berjubel untuk mencari barang‑barang baru. Padahal dari asal katanya al‑ied merupakan pecahan kata aada ya'uudu yang artinya seakan‑akan mereka kembali kepadanya yang berarti tentu saja kembali dengan segala konsistensi beramal kebaikan setelah menjalani madrasah ramadan. Ibnu Al A'rabi pun berkata bahwa al‑ied (hari raya) adalah kegiatan berulang setiap tahunnya dengan kegembiraan yang baru. Dalam hal ini tentu sering salah ditafsirkan oleh sebagian kalangan yang memandang makna kegembiraan sebagai simbol keduniawian seperti konsumerisme yang merajalela. Padahal yang dimaksud dengan hadirnya kegembiraan atau keceriaan di sini menurut Al‑Alamah Ibnu Abidin adalah kenikmatan berbuka setelah berpuasa dan shadaqah atau zakat fitri sehingga kegembiraan yang ada bukanlah milik segelintir orang tetapi juga milik seluruh kaum muslim tidak peduli apakah dia kaya ataupun miskin. Allah memang menetapkan hari raya Idul Fitri bersama dengan hari raya Idul Adha sebagai dua hari raya yang penuh berkah. Menurut riwayat Anas bin Malik, Rasullullah ketika datang ke Madinah menemui kenyataan bahwa penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka rayakan ketika masa Jahiliyah, lalu Rasullullah bersabda Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bermain di hari itu pada masa jahiliyah. Dan sungguh Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa rahmat Allah begitu besar pada hari raya Idul Fitri sehingga tidak sepantasnya kita memaknai hari raya ini dengan perbuatan bermain‑main seperti pada zaman jahiliyah dengan berfoya‑foya ataupun berhias terlalu berlebihan pada hari raya ini. Oleh karena itu, Islam memiliki beberapa adab atau ketentuan yang sudah semestinya kita lakukan saat hari raya terutama pada hari raya Idul Fitri. Salah satunya adalah pelaksanaan takbir pada hari raya seperti yang dicontohkan oleh Rasullullah dalam hadits yang dirawi oleh Ibnu Abi Syaibah yang mengatakan bahwa, Rasullullah pernah keluar pada hari raya Idul Fitri dengan bertakbir ketika mendatangi mushalla (tanah lapang) sampai shalat ditegakkan dan ketika shalat dimulai maka berhentilah takbir tersebut. Kita juga dianjurkan untuk menyantap makanan sebelum pergi shalat Idul Fitri. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas Bin Malik, beliau berkata, Adalah Rasullullah tidaklah keluar untuk melakukan shalat Idul Fitri pada hari raya kecuali setelah makan beberapa butir buah kurma. Lantas apa makna dari kebiasaan Rasullullah tersebut? Menurut Al Iman Al‑ Muhallab, Rasullullah ingin menekankan bahwa tidak ada keharusan untuk berpuasa dan baru berbuka setelah menunaikan shalat Idul Fitri. Mandi juga merupakan hal yang di sunnahkan pada saat kita akan melaksanakan shalat Idul Fitri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Al Iman Said bin Al Musayyib yang mengatakan bahwa ada tiga sunnah pada hari raya Idul Fitri yaitu berjalan ketika menuju mushalla (tanah lapang), makan sebelum shalat Idul Fitri dan mandi. Selain itu salah satu hal yang wajib kita lakukan adalah pergi ke mushalla atau tanah lapang ketika shalat Idul Fitri. Hal ini diperkuat oleh riwayat Abu Said Al Khudri bahwa beliau berkata, Dahulu Rasulullah keluar pada hari raya Idul Fitri dan Adha ke mushalla (tanah lapang) dan yang pertama kali dilakukannya adalah shalat. Selain itu ketika berangkat dan pulang dari tanah lapang dianjurkan untuk mengikuti kebiasaan Rasul untuk berangkat dan pulang dengan jalur yang berbeda. Apa tujuan Rasullullah untuk berangkat dan pulang dengan jalur yang berbeda? Menurut Al Iman Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Rasullullah pada hari raya berangkat dan pulang dari tanah lapang dengan jalur yang berbeda dengan tujuan untuk memberi salam kepada kedua pengguna jalan tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa agar pengguna kedua jalan yang berbeda mendapatkan berkah dari Rasullullah ataupun untuk menyelesaikan urusan dengan kedua pengguna jalan yang berbeda. Namun yang paling penting, tujuan dari kebiasaan menggunakan dua jalur yang berbeda ini adalah syi'ar Islam pun lebih terasa karena dengan menggunakan dua jalur yang berbeda maka orang yang ditemui pun akan lebih banyak. Setelah pulang dari menjalankan shalat Idul Fitri tentunya kita tidak lupa untuk mengucapkan selamat hari raya dengan orang‑orang yang kita temui. Bahkan dengan semakin canggihnya teknologi beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri orang‑orang sudah ramai mengirimkan sms, menulis status di facebook dan juga bertwitter ria untuk saling mengucapkan selamat hari raya. Menurut Al hafizh Ibnu Hajar para sahabat Rasullullah apabila bertemu di hari raya Idul Fitri mereka mengatakan kepada teman‑temannya taqaballahu minna wa minkum yang berarti Semoga Allah menerima (ibadah) kami dan (ibadah) kalian. Dari makna ucapan para sahabat tersebut terasa ketulusan untuk saling mendoakan di hari raya yang tentunya akan meningkatkan ukhuwah. Jadi, mulai sekarang kita harus terus membiasakan diri dengan mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya ketika merayakan hari raya Idul Fitri. Jangan sampai kita tergerus oleh arus budaya dan tradisi yang justru mengaburkan makna kebahagiaan Idul Fitri dengan hal‑hal yang berbau jahiliyah. Selamat Idul Fitri 1430 H. (bj)
| Indeks WACANA hal 1 dari 69 | next >> |
 INTERNASIONAL
|
 JAWA TENGAH
|
 NASIONAL
|
 SPORT
|
 PENDIDIKAN
|
 WACANA
|
 MAGELANG
| |
|
|