Mutiara Ramadan Bulan Evaluasi dan Koreksi Diri Oleh: Waryono Abdul Ghafur MAg Kamis, 28 Sep 2006 07:59:31 "BARANG siapa berpuasa karena iman dan melakukan ihtisab, maka akan diampuni segala dosa‑dosanya yang lalu." (HR. Bukhari) Rasulullah SAW, melalui hadis di atas menganjurkan kepada orang yang sedang berpuasa agar banyak melakukan kegiatan ihtisab (mawas, introspeksi, dan koreksi diri atau self examinatin). Muhasabah sangat mudah diucapkan, namun sejatinya sulit dilakukan terutama oleh siapapun yang tidak memiliki sikap jujur dan rendah hati (tawadu'). Kesulitan melakukan koreksi atau introspeksi diri ini juga berkaitan dengan kebiasaan kita yang lebih mudah melakukan pengawasan, kritik dan menilai kesalahan orang lain daripada mengawasi, mengkritik dan menilai kesalahan diri sendiri. Perilaku seperti ini seperti dingkapkan dalam sebuah pepatah: kuman di seberang lautan jelas terlihat, sedang gajah di pelupuk mata tak terlihat. Ihtisab adalah proses melihat ke dalam diri (in world looking) secara tulus dengan jernih hati dan pikiran terhadap apa saja yang selama ini sudah dilakukan, didapat dan diproduksi. Dalam bahasa sehari‑hari, proses ini dikenal juga dengan istilah refleksi dan evaluasi. Refleksi dan evaluasi diri ini penting karena dapat dijadikan sebagai acuan perbaikan dan peningkatan prestasi serta perencanaan aksi di masa depan. Tanpa ada refleksi dan evaluasi diri, segala sikap dan tindakan seseorang, institusi atau organisasi, baik kecil ataupun besar akan terbelenggu pada rutinitas dan kejumudan. Tanpa ada proses ihtisab sangat sulit melakukan perubahan dan terobosan. Lebih fatal dari itu, ketiadaan evaluasi dan koreksi diri ini juga akan mudah menjerumuskan seseorang ke dalam praktek kejahatan, yang mungkin tampak dari luar sebagai sesuatu yang baik dengan 'jubah kesalehan'. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa ihtisab adalah kerangka dasar yang dapat mengantar keberhasilan seseorang dalam mengarungi kehidupan. Karena itu ihtisab semestinya menjadi budaya, tanpa harus menunggu puasa. Bulan puasa merupakan momen tepat untuk melakukan ihtisab, karena pada saat itu kita sedang melakukan proses tahalli (menghiasi diri dengan berbagai amal kebaikan dan kedekatan dengan Tuhan). Dengan refleksi, evaluasi dan kritik diri diharapkan kita dapat menemukan kembali keotentikan diri, pikiran, konsepsi, asumsi‑asumsi, pandangan, dan juga keyakinan kita. Bagi yang selama ini bergelut dengan harta dapat melakukan refleksi dan evaluasi diri, apakah harta yang dimilikinya diperoleh dengan cara‑cara yang benar dan digunakan secara benar juga. Bagi pembuat dan penentu kebijakan, apakah kebijakan yang selama ini dibuat menjadi solusi dan memberi kemaslahatan bagi orang banyak. Bagi kyai, ustadz, ulama, dosen atau guru, yang selama ini bergiat dalam bidang dakwah dan ilmu, apakah ajaran, teori, pandangan, konsepsi dan fatwa‑fatwanya selama ini sudah tepat, tidak mendiskreditkan dan menyudutkan salah satu pihak, dan memberi kontribusi pada perbaikan atau malah menjadi pemicu lahirnya kekerasan dan perusakan. Bagi wartawan dan media massa, apakah selama ini sudah memberikan sesuatu yang berharga bagi masyarakat dan seterusnya, di mana setiap diri dianjurkan untuk melakukan koreksi diri. Bulan puasa memang bulan pengampunan (maghfirah), tetapi hal itu hanya akan terpenuhi kalau puasanya disertai iman dan sikap self examination. Muhasabah menjadi prasyarat perolehan pengampunan, karena salah satu akar perilaku dosa adalah sombong, sikap merasa besar, menang dan benar sendiri, meskipun kadang tanpa dasar dan argumentasi. Sombong itu pula yang membuat Iblis tidak dapat menerima kebenaran dan pelanggar aturan Tuhan selamanya. (*)
| Indeks NASIONAL hal 1 dari 285 | next >> |
 INTERNASIONAL
|
 JAWA TENGAH
|
 NASIONAL
|
 SPORT
|
 PENDIDIKAN
|
 WACANA
|
 MAGELANG
| |
|
|