SUDAH beberapa hari terakhir ini, terdapat pemandangan berbeda di sepanjang perumahan Gladiol Bayeman Kota Magelang. Di atas trotoar tepatnya di depan Art Space Syang milik L Ridwan Muljosudarmo, terdapat lima buah sepeda kuna yang ditanam lengkap dengan penumpangnya. Pemandangan ini cukup mengusik perhatian para pengguna jalan yang kebetulan lewat di tempat itu. Penunggangnya‑pun bukan manusia betulan, melainkan patung yang terbuat dari seng dengan kostum yang nyentrik. Sosok penumpang tersebut mirip tokoh wayang Gatotkaca, anak‑anak punk hingga tokoh film anak‑anak.
Pengelola Art Space Syang Ridwan mengatakan, yang memasang sepeda lengkap dengan patungnya adalah para seniman asal Yogjakarta yang tergabung dalam kelompok Hitam Manis. Pemasangan sepeda ini tidak lain untuk kampanye global warming untuk menekan pemanasan global. Para seniman itu ingin mengingatkan tentang dampak negatif dari pemanasan global terutama bagi generasi penerus. Karenanya, sepeda dijadikan simbol agar manusia kembali ke alat transportasi yang tidak mengeluarkan polusi udara.
"Bersepeda selain menyehatkan juga menekan banyaknya polusi yang keluar dari kendaraan bermotor," katanya.
Zaman dulu, imbuhnya, orang tidak malu untuk bersepeda bahkan enjoy. Namun sekarang, sudah jarang orang yang bersepda. "Kalau hanya untuk jarak dekat, saya kira memang efektif bersepeda saja," katanya.
Pria yang gemar bergaul dengan berbagai kalangan ini mengemukakan, Kota Magelang adalah kota yang sejuk, bila pemanasan global tidak segera ditanggulangi, maka lambat laun magelang akan rusak dengan sendirinya. Tentang patung seng yang menunggang sepeda itu, Ridwan mengungkapkan kalau pembuatannya membutuhkan waktu selama 2 bulan oleh 6‑7 seniman. Untuk membuatnya pun membutuhkan ketelatenan karena harus membuat pola kemudian dilas.
Ketika sudah jadi, masih harus dilas dengan sepedanya. Patung dengan sepeda ini, akan dipasang untuk beberapa bulan ke depan. Setelah tim akan diganti dengan tema yang lain. (tie)