PURWOKERTO‑‑Jalan raya adalah mesin pembunuh paling efektif. Hal ini ditunjukkan, jumlah korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas rata‑rata 210 orang per bulan atau 2.555 orang meninggal sia‑sia di jalan raya setiap tahunnya. Dari jumlah itu sebanyak 80 persen korban tewas adalah pengendara sepeda motor serta pemboncengnya.
Jalan raya serta pengguna kendaraan yang tidak disiplin juga telah menyebabkan 390 orang per bulan atau 4.745 orang setiap tahun mengalami luka berat dan ringan bahkan mengakibatkan cacat permanen. "Dari korban yang meninggal atau mengalami cacat akibat kecelakaan di jalan raya sebagian besar adalah pengguna sepeda motor. Secara kuantitatif jumlah mereka paling banyak, tingkat kerawanannya juga tinggi," kata Kepala Jasa Raharja Cabang Jawa Tengah, H Nana Suyatna dalam kunjungannya di Purwokerto, Kamis (11/3).
Nana menambahkan, data yang dimiliki Jasa Raharja setiap hari di provinsi Jateng ditemukan tujuh orang meninggal akibat lecelakaan lalu lintas. Sedang Kota paling rawan angka kecelakaannya adalah Solo, kemudian disusul Semarang, Pekalongan dan khusus Kota Purwokerto menempati rangking ke empat.
Dijelaskan, angka kecelakaan meninggal dunia yang tercatat di kantor Jasa Raharja dengan angka kecelakaan yang dilaporkan polisi kadang beda. Karena polisi lalu lintas biasanya hanya melaporkan angka kematian di tempat kejadian, tapi setelah di rumah sakit kadang tidak dilaporkan.
Tingginya angka kecelakaan merupakan dampak, terjadinya ledakan kepemilikan sepeda motor dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan kendaraan bermotor di Jawa Tengah sebesar 8 persen, sebanyak 80 persennya adalah kendaraan sepeda motor, dan sisanya kendaraan roda empat. Di provinsi ini tercatat ada 6 juta unit kendaraan bermotor.
"Pertumbuhan kepemilikan kendaraan sangat tinggi, Misalnya seperti kecil di Purwokerto, pertumbuhan kendaraan bermotor mencapai 2000 unit per bulan dan sekitar 80 persen adalah sepeda motor," ujarnya. (prs)