DIY Buka 34 Galeri Batik Sultan: Melestarikan Batik Perlu Naskah Akademik Senin, 5 Okt 2009 11:46:16 JOGJA -- Berkaitan dengan pengakuan batik sebagai pusaka budaya Indonesia oleh UNESCO, Paguyuban Pecinta Batik Indonesia "SekarJagad" membuka dan mengumumkan 34 galeri batik di DIY. Sebagai langkah awal, diresmikan delapan galeri batik pada Sabtu (3/10). Kedelapan galeri itu adalah galeri Rumah Ropingen (Kotagede), galeri Gunung Kelir (Plered, Bantul), galeri Pasar Tiban Imogiri (Bantul), Galeri Sekar Peni (Panembahan, Yogyakarta), galeri batik Jawa (Jl. AM Sangaji, Yogyakarta), galeri Sogan Village (Sleman), galeri Amboja (Sleman) dan galeri Bodronoyo (Kulonprogo). Pembukaan galeri oleh "SekarJagad" merupakan galeri yang memproduksi dan memasarkan batik tulis dan batik cap. Masing-masing galeri diresmikan oleh pejabat yang berwenang. Salah satu galeri yang diresmikan adalah galeri Sekar Peni yang berada di Jalan Kemitbumen, Panembahan Yogyakarta, milik Ibu Toto Kuwato. Galeri ini diresmikan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY, Indarto Budiono, SMI.MM. "Mudah-mudahan geliat batik di Yogyakarta akan tumbuh subur dan berkembang, sehingga bisa menyerap tenaga kerja," kata Indarto. Menurut dia, Yogyakarta memiliki banyak sekali perajin batik, sehingga dengan adanya pengukuhan bahwa batik milik Indonesia, maka bisa berefek pada produksi batik yang semakin banyak. Tentu saja ini akan membuka peluang kerja bagi masyarakat. Khususnya perajin batik tulis dan batik cap. Sultan di Galeri Batik Omah Ropingen Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X yang meresmikan galeri batik Omah Ropingen Kotagede, Sabtu (3/10), meminta semua pihak dapat bekerjasama dalam melestarikan batik secara berkesinambungan agar batik semakin dikenal masyarakat dunia. Gubernur mengusulkan, salah satu upaya untuk melestarikan batik yaitu dengan menciptakan naskah akademik tentang batik yang memadai. Dengan naskah akademik diharapkan akan mampu menjelaskan semua informasi tentang batik yang mampu dipertanggungjawabkan. "Naskah akademik hasil penelitian atau analisis tentang batik sangat diperlukan karena sampai sekarang banyak pertanyaan tentang batik yang belum sepenuhnya terpecahkan. Salah satu masalah yang perlu mendapat kajian serius yaitu asal muasal batik," katanya. Dia menambahkan, penetapan batik sebagai warisan budaya dunia tak benda menjadi bukti pengakuan dunia terhadap batik sebagai ciri khas budaya bangsa dan milik Indonesia. Karenanya dia mengimbau semua pihak mendukung pengakuan tersebut dengan bekerjasama dalam melestarikan batik secara berkesinambungan, sehingga batik batik dikenal dunia. Tanpa kerjasama dan upaya dari banyak pihak untuk melestarikan batik, bukan tidak mungkin nantinya pengakuan UNESCO ini akan dicabut. "UNESCO dulu pernah mencabut status kota Dresden di Jerman, sebagai warisan budaya dunia karena ada pembangunan di kota itu yang tidak selaras. Kalau kita semua tidak bisa melestarikan batik, bisa saja UNESCO nanti mencabut status batik sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia," tutur seorang perajin batik asal DIY, Larasati Suliantoro Sulaiman. Perempuan Jawa bisa membatik Perajin sekaligus peneliti indigo (pewarna alami) batik ini menambahkan, dia merasa risau jika nantinya seni batik ditinggalkan masyarakat. Karenanya dia akan berupaya agar seni membatik membumi di masyarakat khususnya perempuan Jawa. Dengan demikian membatik tak hanya sekadar hobi namun juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga. Sementara itu Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto berharap Yogyakarta dapat menjadi pelopor sekaligus contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam hal melstarikan (nguri‑uri) budaya Indonesia khususnya batik. Dia juga mengusulkan Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekarjagad tahun depan dapat menyelenggarakan lomba membatik yang diikuti oleh para pelajar se‑DIY. (rat/c12)
| Indeks METRO hal 1 dari 325 | next >> |
 METRO
|
 DIY
|
 KASUS/KRIMINAL
|
 INFOTAINMENT
| |
|
|