Hasil Pengembangan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Padi SRI: Hemat Air dan Pupuk, Mampu Produksi 11 Ton/Ha Jumat, 14 Nov 2008 09:03:34 JOGJA ‑‑ Tim peneliti dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM berhasil mengembangkan teknik budidaya padi bernama System of Rice Intensification (SRI). Melalui pengembangan dengan model SRI yang hemat air dan pupuk dan benih itu, para petani bisa memanen hasil produksi dua kali lipat dibandingkan dengan cara konvensional. Budidaya yang sejak 2005 silam dikembangkan bersama kelompok tani di lima kabupaten/kota se‑DIY itu menjadi terobosan penanaman padi. Sebab dalam pengelohan dengan model SRI yang mengolah tanaman, tanah, air dan unsur hara secara hemat, tidak saja menguntungkan harga jual petani namun juga mengurangi tenaga kerja dalam pengolahannya. Anggota tim peneliti FTP UGM, Dr Sigit Supadmo MEng, kepada wartawan di Ruang 385 Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, Kamis (13/11) yang didampingi dua peneliti lainnya, Dr Dajafar Shiddieq, Prof Sahid Susanto dan empat orang perwakilan petani dari empat Kabupaten di DIY mengungkapkan, produksi padi melalui metode SRI itu bisa mencapai 8‑11 ton per hektar untuk sekali panen. Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan jika petani menggunakan sistem konvensional yang hanya mencapai 5,2‑5,4 ton per hektar. Selain itu, dibanding dengan budidaya padi dengan pola konvensional, budidaya padi metode SRI mampu menghemat benih hingga sepertiganya. Untuk satu hektar lahan, hanya memerlukan 10 kg benih dari yang biasanya 30‑50 kg di sistem konvensional. Sedangkan dalam hal penggunaan pupuk bisa menghemat hingga 50 persen dan hal penggunaan air bisa memanfaatkan pengairan dengan genangan air yang lebih rendah. "Genangan air yang diperlukan dalam SRI bisa dikurangi mencapai 10 ‑ 15 cm lebih rendah, bahkan bisa hanya genangan air dengan ketinggian 2 atau 1 cm," jelasnya. Pengelolaan padi semacam ini, menurut Sigit bertujuan untuk mencapai produksi yang tinggi melalui peningkatan jumlah anakan dan anakan produktif, peningkatan panjang malai dan penambahan jumlah benih padi per malai dan meningkatkan berat benih padi. Selain itu juga bisa memperbaiki perkembangan akar tanaman sehingga sehat pertumbuhannya dan bisa meningkat produksinya. Namun untuk bisa mencapai hal itu dibutuhkan sejumlah persyaratan. Diantaranya tanam bibit muda yang berumur kurang dari 15 hari setelah semai, menanam bibit dengan satu lubang satu bibit dimana jarak tanam lebih kebar, melakukan pindah tanam segera mungkin dan akar tanaman dijaga agar tidak putus, ditanamn dangkal antara satu hingga 2 cm dan akar tidak ditekuk, lalau pemerian genagnan air serta penyiangan dilakkan seawal mungkin. Hal senada diungkapkan Dr Djafar Shiddieq yang menjelaskan, metode SRI rata‑rata mengutamakan penggunaan pupuk organik (kompos) sekitar 50 persen dari penggunaan pupuk untuk menyediakan pasok unsur hara bagi tanaman, sehingga mengaplikasikannya dalam skala waktu yang panjang akan memperbaiki kondisi tanah baik sifat fisik maupun kimia tanah. Selain pupuk kompos, sebagian petani dengan metode SRI sudah memanfaatkan pestisida nabati. Untuk hasil produksi per hekatar dari metode ini menurut Djafar Shiddieq cukup bervariasi di setiap kabupaten. Berdasarkan hasil penelitian untuk penggunana metode SRI dengan penggunaan pupuk organik dan non organik dengan jumlah yang sama maka akan menghasilkan produksi sekitar 7,9 ton per hektar. Sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan sitem konvensional yang rata‑rata menghasilkan produksi padi sekitar 6,2 ton per hekatr. "Metode SRI ini bisa digunakan oleh semua jenis varietas padi namun di kalangan petani di Yogyakarta para petani banyak menggunakan berbagai jenis varietas padi seperti padi hibrida, C4, dan sebagainya," ungkapnya. Nuryanto, seorang petani asal Desa Ngestiharjo (Kulonprogo), mengakui jika model SRI memberikan hasil produksi yang cukup baik sebagai salah satu budidaya padi yang hemat air, benih dan pupuk. Menurut pengalamannya selama menjalankan metode SRI sejak tahun 2003, diakuinya model SRI menjaga kesuburan tanah karena mengurangi penggunaan pupuk anorganik (kimia). Dalam penggunaan jumlah tenaga kerja diakui petani lainnya asal Sleman, Subardi, sistem ini bisa mengurangi jumlah tenaga kerja hingga sepertiganya.(ptu)
| Indeks METRO hal 1 dari 324 | next >> |
 METRO
|
 DIY
|
 KASUS/KRIMINAL
|
 INFOTAINMENT
| |
|
|