NOVITA PURNANINGSIH/BERNAS JOGJA
TES DMI--Salah satu peserta diskusi yang digelar oleh Primagama di Hotel Santika tengah mengikuti tes Dermatoglyphics Multiple Intelligence (DMI), Rabu (6/8). DMI ini merupakan sebuah metode berbasis teknologi untuk membaca peta potensi diri melalui fingerprints (sidik jari).
Pengembangan Dermatoglyphics Multiple Intelligence Kenali Bakat Anak Lewat Sidik Jari Kamis, 7 Ags 2008 10:04:29 MEMILIH pendidikan memang penting, tapi mengenali bakat yang dimiliki oleh seseorang merupakan hal yang jauh lebih penting. Jika sakit perlu didiagnosis, maka bakat pun perlu dideteksi. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Dermatoglyphics Multiple Intelligence (DMI) Primagama Drs Teguh Sunaryo MSi saat berbicara dalam Diskusi Ilmiah Terbatas bertema "Mengenali Bakat Melalui DMI Assessment" di Jatinom Room, Hotel Santika, Rabu (6/8). Selain Direktur Utama Primagama Adam Primaskara, hadir pula mantan Kadinas Pendidikan Provinsi DIY Drs Sugito MSi, Kabid Bina Program Dinas Pendidikan Provinsi DIY Baskara Aji, dan undangan penting lainnya. Teguh mengungkapkan, pengenalan bakat manusia memang telah mengalami sejarah kemajuan yang signifikan. Pada awalnya, bakat seseorang hanya dikenali dengan basis pengalaman. Tentu saja, menurutnya, cara ini menuntut insting yang tinggi dari orangtua sekaligus waktu luang yang cukup untuk mengenali bakat si anak. Selanjutnya, pengenalan bakat manusia dilakukan melalui tes tertulis dan juga tes wawancara sebagai satu variasi psikotes. "Tren ICT (Information and Communication Technology--red) yang marak pun mulai masuk dalam pengenalan bakat. DMI Assessment ini merupakan pengenalan bakat berbasis deteksi dan teknologi," ungkap Teguh lagi. DMI yang kini telah dikembangkan pertamakalinya di Indonesia oleh Primagama tersebut merupakan ilmu atau metode berbasis teknologi canggih untuk membaca peta potensi diri melalui fingerprints (sidik jari). Selain tidak membutuhkan waktu yang lama, tes ini juga memiliki tingkat akurasi yang tinggi, dan hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup. Primagama pun memasang biaya yang berbeda. Bagi siswa Primagama dikenakan biaya Rp 500 ribu dan non siswa Primagama Rp 1 juta. Director of Business Development Comcare Enterprise Singapore (yang digandeng oleh Primagama untuk mengadakan DMI Assessment--red) Erick Liem MSc pun memiliki penjelasan yang mendukung penjelasan Teguh. Menurut Liem, banyak tes yang dilalui oleh seseorang karena semua hasil tes yang mereka lakukan hanya berlaku pada saat itu juga. "Tes-tes tersebut akan berubah-ubah hasilnya karena lingkungan maupun kondisi psikologis seseorang sangat mempengaruhinya. Hal itu tentu berbeda dengan sidik jari yang tidak akan berubah dan tetap bisa menunjukkan potensi bakat seseorang,' terang Liem. Liem menegaskan, guratan di telapak tangan seseorang memang mungkin bisa berubah sesuai dengan apa yang dilakukan seseorang selama hidupnya. Akan tetapi, sidik jari tak akan berubah seperti guratan tangan itu. Sementara itu, salah satu dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dra Budi Andayani MSi menjelaskan, sidik jari dan rajah tangan telah ditengarai oleh seorang antropolog yakni Sir Francis Galton sebagai sebuah karakteristik yang tidak pernah berubah sejak lahir hingga mati. Perkembangan sidik jari dan rajah tangan pun menunjukkan adanya keterkaitan dengan perkembangan syaraf otak. "Karena perkembangannya terkait pula dengan perkembangan syaraf, maka dapat diasumsikan bahwa sidik jari dan rajah tangah orang yang berbeda kecerdasannya akan berbeda pula karakteristiknya," tutur Budi.(ovi)
| Indeks METRO hal 1 dari 326 | next >> |
 METRO
|
 DIY
|
 KASUS/KRIMINAL
|
 INFOTAINMENT
| |
|
|