SARIYATI/BERNAS JOGJA MEMANFATKAN SAMPAH --Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Bantul Dharmawan Manaf SH (kiri) melihat tanaman yang diberi pupuk organik di lahan milik kelompok tani "Sedyo Makmur" Dusun Polaman, Desa Argorejo, Kec Sedayu, Selasa (6/1) siang. Sampah Masuk TPA 575 Ton/Hari TPA Piyungan Hampir Penuh Rabu, 7 Okt 2009 12:46:09 SEDAYU-- Saat ini volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan mencapai lebih dari 575 ton per hari. Sampah-sampah tersebut berasal dari Kabupaten Sleman sekitar 350 ton, Kota Jogja menyumbang 150 ton dan dari Kabupaten Bantul sendiri lebih dari 75 ton. Saat ini TPA yang luasnya sekitar 5 hektar itu nyaris penuh, sehingga harus ada solusi untuk mengatasi limbah sampah terutama yang anorganik seperti plastik agar tidak menjadi masalah akut di lingkungan. "Saat ini volume sampah yang dibuang ke TPA Piyungan sudah hampir penuh. Maka harus ada solusi untuk mengatasinya, yakni dengan penyadaran kepada masyarakat, perusahaan, pelaku usaha dan instansi bahwa mereka adalah penyumbang sampah sehingga perlu dilakukan pengelolaan yang benar," kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BHL) Bantul Dharmawan Manaf SH didampingi Sekretaris BLH Provinsi DIY Puji Astuti usai penyuluhan kepada warga soal pencemaran lingkungan di rumah ketua Klomtan "Sedyo makmur" Dusun Polaman, Argorejo, Sedayu, Sumarjan, Selasa (6/10) siang. Penanganan yang dilakukan, di antaranya meminimalisir penggunaan plastik saat belanja dengan membawa tas dari rumah bagi ibu rumah tangga dan memilah sampah antara organik dan anorganik. Sebab untuk sampah anorganik seperti plasik bungkus minuman, bisa diolah menjadi aneka kerajinan dan sampah organik bisa diolah menjadi pupuk kompos atau pupuk organik. "Saat ini yang sudah jalan adalah perajin di Pendowoharjo, dan di sana membutuhkan bahan baku. Mungkin sampah yang telah dipilah itu bisa disetorkan ke sana sehingga menambah pendapatan," kata Dharmawan. Menurutnya, jika permasalahan sampah tidak ditangani dengan baik, maka diperkirakan 50 tahun mendatang, masalah polusi akan sangat mengganggu manusia. Dampak yang paling nyata adalah naiknya suhu akibat pemanasan global (global warming). Sedangkan Puji Utami mengatakan, TPA adalah pengelolaan akhir dalam arti jika sampah benar-benar tidak bisa dikelola dari sumbernya. Seperti dalam rumah tangga, hendaknya sampah dipilah-pilah dulu berdasarkan jenisnya, jangan asal buang campur aduk. Sebab sampah yang dipilah ada yang bisa dijual lagi sehingga jadi uang dan sampah organik bisa dijadikan pupuk organik. "Masalah sampah dan pencemaran lingkungan soal perilaku. Jadi memang harus ada sosialisasi ke masyarakat, kendati sulit namun pelan-pelan harus dilakukan," katanya. Ia mengaku, setiap hari membawa tas lipat dalam tas, sehingga ketika suatu saat berbelanja, tidak perlu meminta tas plastik yang menambah sampah di rumah. "Sepertinya ini masalah kecil, tetapi kalau dilakukan banyak orang dampaknya akan besar juga," kataya. (sri)
| Indeks DIY hal 1 dari 371 | next >> |
 METRO
|
 DIY
|
 KASUS/KRIMINAL
|
 INFOTAINMENT
| |
|
|