Pak Presiden, Mengapa Pendidikan Kian Mahal? Minggu, 30 Jul 2006 12:24:45 SAYA ingin bertanya kepada Bapak Presiden, mengapa pendidikan sekarang makin mahal? Apa memang untuk belajar harus membutuhkan banyak dana? Jika setiap tahun ajaran baru biaya pendidikan makin besar, bagaimana nasib generasi penerus kita? Bisa-bisa SPP 1 bulan mencapai puluhan juta. Tolong Pak! Saya minta kebijakan Bapak mengenai biaya pendidikan. Bagaimana mungkin bangsa kita akan maju, jika generasi penerus kita tidak mendapat pendidikan yang sepantasnya. Negara kita bisa hancur dan bisa dijajah negara lain secara pelan-pelan. Padahal gaji orang tua anak didik mungkin tidak mencukupi untuk biaya pendaftaran dan bayar SPP. Apalagi untuk daftar ulang dan membeli berbagai kebutuhan sekolahnya. Lathifah Fatharani, siswi klas IX B SMP Negeri 2 Jogja, menyampaikan pandangannya tentang pendidikan nasional untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada acara Safari Jurnalistik Dinas Pendidikan Kota Jogja dan Lembaga Pelatihan Jurnalistik Bernas (LPJB) di kantor dinas tersebut, Jalan Hayam Wuruk 11 Jogja, Jumat (21/7). Sebanyak 60-an siswa-siswi SMP se Kota Jogja mengikuti program ini untuk mengelola Majalah Ceria. Humas Dinas Pendidikan Kota Jogja Nunuk Dwihastuti MPd membuka acara tersebut, dan dilanjutkan penyampaian materi oleh tim LPJB sampai Minggu (23/7) besok. Materi pelatihan berupa penulisan fakta, opini, fiksi, serta pengelolaan media dan ilustrasi. Kemudian dialog klasikal, tugas lapangan, dan simulasi media. Direktur LPJB Y.B. Margantoro mengemukakan, media massa perlu meningkatkan kepedulian terhadap pendidikan melalui sajian tulisan-tulisan yang lebih mendidik maupun liputan dinamika pendidikan. Di sisi lain, pendidikan perlu meningkatkan kerjasama dengan media massa untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan. "Adanya program safari jurnalistik di kalangan pelajar ini bagus untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, ketrampilan jurnalistik, dan kepekaan sosial mereka. Siswa didik juga perlu mengembangkan ladang penulisan, dari media sekolah ke media umum. Untuk itu perlu latihan terus menerus," kata dia. Bisa putus sekolah Riskanti Revita siswi SMPN 3 Jogja mengemukakan, BOS memang sangat membantu siswa, tapi mengapa masih banyak anak yang tidak bersekolah? Untuk SPP kiranya sudah teratasi dengan adanya BOS, tapi biaya masuk sekolah itu mahal. Harus bayar pendaftaran, uang gedung, ini dan itu. "Lagi pula dengan adanya standar kelulusan yang sekarang ini, banyak anak yang tidak lulus. Padahal, kalau tidak lulus tidak boleh ke sekolah negeri, sedangkan kalau ke sekolah swasta maka biayanya akan lebih mahal. Bisa-bisa mereka putus sekolah. Jadi Pak SBY harus berjuang keras agar generasi penerus kita bisa belajar semua dengan senang dan gembira," kata dia. Awanda Muthia Sari satu-satunya siswi sekolah dasar yang ikut pelatihan, yakni dari SD Muhammadiyah Gunungpring Muntilan, berpendapat, banyak siswa yang berprestasi tapi tidak mendapat beasiswa tambahan. Mohon bantuan pemerintah terutama untuk anak-anak yang terkena gempa di Jogja dan Jawa Tengah. Para peserta safari jurnalistik pada hari pertama kemarin sudah mulai mendapat penugasan wawancara siswa berprestasi dan penulisan opini singkat. Karya mereka diharapkan dapat menghiasi halaman Koran Masuk Sekolah (KMS) Bernas Remaja dan Majalah Ceria. (mar)
|
|